Penalaran Deduktif

  • Nama   : Sulia Utami
  • NPM    : 26210732
  • Kelas   : 3EB17

 

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Ada dua metode penalaran yaitu, penalaran deduktif dan penalaran induktif.

Penalaran deduktif dikembangkan oleh Aristoteles, Thales, Phytagoras dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.

Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik. Dengan memperkirakan fenomena bagaimana apel jatuh dan bagaimana planet-planet bergerak, Isaac Newton menyimpulkan teori daya tarik. Pada abad ke-19, Adams dan Leverrier menerapkan teori Newton (prinsip umum) untuk mendeduksikan keberadaan, massa, posisi, dan orbit Neptunus (kesimpulan-kesimpulan khusus) tentang gangguan (perturbasi) dalam orbit Uranus yang diamati (data spesifik).

Penalaran dedukatif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak lebih umum daripada proposisi tempat menarik simpulan itu, proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis.

Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau individual.

Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum , yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus . Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

-> Variabel pada penalaran deduktif :

1. Silogisme Kategorial

Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.

Premis umum              : Premis Mayor (My)

Premis khusus             : Premis Minor (Mn)

Premis simpulan          : Premis Kesimpulan (K)

Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor. Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut:

  1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu: term mayor, term minor, term penengah.
  2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
  4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
  5. Dari premis yang positif, akan diproduksi simpulan yang positif.
  6. Dari dua tempat yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
  7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

Contoh Silogisme Kategorial:

My       : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA

Mn       : Badu adalah mahasiswa

K         : Badu lulusan

 

2. Silogisme Hipotesis

Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.  Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B,  jadwal hukum silogisme hipotesis adalah:

  1. Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
  2. Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
  3. Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
  4. Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotesis :

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:

        –  Jika hujan, saya naik becak.

        –  Sekarang hujan.

        –  Jadi saya naik becak.

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya, seperti:

        –  Bila hujan, bumi akan basah.

        –  Sekarang bumi telah basah.

        –  Jadi hujan telah turun.

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:

        –  Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.

        –  Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

  • Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:

        –  Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah

        –  Pihak penguasa tidak gelisah, jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan

 

 3. Silogisme Alternatif

Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

 

 4. Entimen

Dalam kehidupan sehari-hari, silogisme yang kita temukan berbentuk entimem, yaitu silogisme yang salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Contoh : Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.

Kalimat diatas dapat dipenggal menjadi dua.

  1. Menipu adalah dosa.
  2. Karena (menipu) merugikan orang lain.

Kalimat a merupakan kesimpulan, kalimat b adalah premis minor (bersifat minor) maka silogisme dapat disusun:

Premis mayor  : ?

Premis minor   : Menipu merugikan orang lain

Kesimpulan     : Menipu adalah dosa.

Dalam kalimat itu, yang dihilangkan adalah premis mayor. Perlu diingat bahwa premis mayor bersifat umum, jadi tidak mungkin subyeknya menipu. kita dapat berpikir kembali dan menentukan premis mayornya, yaitu perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. Entimem juga dapat dibuat dengan menghilangkan premis minornya. Misalnya, perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa, jadi menipu adalah dosa. Untuk mengubah entimen menjadi silogisme, mula-mula kita cari kesimpulannya, kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah cari / tentukan premis yang dihilangkan.

Contoh : Pada malam hari tidak ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi proses fotosintesis.

Bentuk silogismenya adalah :

Premis mayor  :  Proses fotosintesis memerlukan sinar matahai.

Premis minor   :  Pada malam hari tidak ada matahari.

Kesimpulan     :  Jadi, pada malam hari tidak mungkin ada fotosintesis.

Sebaliknya untuk mengubah silogisme menjadi entimen, cukup dengan menghilangkan salah satu premisnya.

Contoh:

Premis mayor  : anak-anak berusia di atas sebelas tahun telah mampu berpikir formal.

Premis minor   : siswa kelas 6 di Indonesia telah berusia lebih dari sebelas tahun.

Kesimpulan     : Siswa kelas 6 di Indonesia telah mampu berpikir formal.

  • Entimen dengan penghilangan premis mayor:

         Siswa kelas 6 di Indonesia telah berumur di atas sebelas tahun, jadi mereka mampu berpikir formal.

  • Entimen dengan penghilanagn premis minor :

         Anak-anak yang berusia di atas sebelas tahun telah mampu berpikir formal, karena itu siswa              kelas 6 di Indonesia mampu berpikir formal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s