Paper – Perbandingan Inflasi di Indonesia Periode 2005-2010

PERBANDINGAN TINGKAT INFLASI DI INDONESIA PERIODE 2005-2010

 

Latar Belakang

Perekonomian Nasional di Indonesia mengalami perusakan diakibatkan sejak terjadinya krisis moneter. Krisis moneter yang melanda indonesia di awali dengan terdepresiasinya secara tajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (terutama dolar Amerika), hal itu mengakibatkan terjadinya lonjakan harga barang-barang impor. Karena kegagalan mengatasi krisis moneter dalam jangka waktu yang pendek, bahkan cenderung berlarut-larut, menyebabkan kenaikan tingkat harga terjadi secara umum. Akibatnya angka inflasi nasional melonjak cukup tajam tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan masyarakat yang cenderung semakin merosot.. Akibatnya Indonesia kembali masuk dalam golongan Negara miskin, sehingga menyebabkan semakin beratnya beban hidup masyarakat khususnya pada tingkat ekonomi bawah.

Kebanyakan orang mengartikan inflasi sebagai suatu keadaan dimana nilai mata uang lebih rendah dari nilai suatu barang. Namun secara sederhana dapat diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.

 

Masalah

Inflasi di Indonesia di ibaratkan penyakit endemis karena biasanya inflasi terjadi berkepanjangan dan berlarut-larut. Tingkat inflasi dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Berdasarkan latar belakang yang dibahas di atas dapat ditarik rumusan masalah “ Bagaimanakah perbandingan tingkat inflasi di Indonesia periode 2005-2010?”

 

Landasan Teori

  1. 1. Teori Kuantitas

Teori ini menyoroti hal-hal yang berperan dalam proses inflasi, yaitu jumlah uang yang beredar dan anggapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga. Inti dari teori kuantitas adalah inflasi yang bisa terjadi apabila ada penambahan volume uang yang beredar. Teori kuantitas ini di kemukankan oleh Irving Fisher.

 

  1. 2. Teori Keynes

Menurut John Maynard Keynes,. Inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Keynes berpendapat, proses inflasi adalah proses perebutan bagian rezeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Oleh keynes proses perebutan ini diterjemahkan menjadi keadaan di mana permintaan masyarakat terhadap barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia. Peristiwa tersebut menimbulkan apa yang disebut celah inflasi atau inflationary gap.

Celah inflasi ini timbul karena golongan-golongan masyarakat berhasil menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan yng efektif terhadap barang. Golongan-golongan masyarakat yang dimaksud yaitu pemerintah, pengusaha, dan serikat buruh. Pemerintah berusaha memperoleh bagian lebih besar dari output masyarakat dengan cara mencetak uang baru. Pengusaha melakukan investasi dengan modal yang diperoleh dari kredit bank, serikat buruh atau pekerja memperoleh kenaikan harga. Hal ini terjadi karena permintaan total melebihi jumlah barang yang tersedia, maka harga-harga akan naik. Adanya kenaikan harga-harga ini menunjukan sebagian dari rencana-rencana pembelian barang dari golongan-golongan tersebut bisa terpenuhi

Proses inflasi akan terus berlangsung selama jumlah pemintaan efektif dari semua golongan masyarakat melebihi jumlah output yang dihasilkan. Namun apabila permintaan efektif total tidak melebihi harg-harga yang berlaku dari jumlah output yang tersedia, maka inflasi akan berhenti.

 

  1. 3. Teori Strukturalis

Teori ini didasarkan atas pengalaman di Negara-negara amerika latin. Teori ini memberikan perhatian yang besar terhadap struktur perekonomian Negara-negara sedang berkembang. Hal ini disebabkan inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian.

 

Menurut teori ini, ada dua hal penting dalam perekonomian Negara-negara sedang berkembang yang dapat menimbulkan inflasi, yaitu ketidakjelasan penerimaan ekspor. Nilai ekspor tumbuh secara lamban di bandingkan dengan pertumbuhan sektor-sektor lain. Adapun penyebab kelambanan tersebut adalah di pasar dunia harga barang-barang ekspor tersebut semakin memburuk.

Produksi barang-barang ekspor tidak responsive terhadap kenaikan harga.
Ketidakelastisan penawaran atau produksi bahan makanan di dalam negeri.
Produksi bahan makanan di dalam negeri tidak  tumbuh secepat pertumbuhan penduduk dan pendapatan per kapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung untuk naik, sehingga melebihi tuntutan karyawan untuk mendapatkan kenaikan harga barang-barang lain. Dampak yang ditimbulkan yaitu munculnya tuntutan karyawan untuk mendapatkan kenaikan upah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan kenaikan ongkos produksi.

 

Hal ini berarti akan menaikan harga barang-barang. Kenaikan harga barang-barang tersebut mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi. Adanya kenaikan upah akan diikuti oleh kenaikan harga Barang-barang begitu seterusnya. Proses ini akan berhenti apabila harga bahan makanan tidak terus naik. Namun karena faktor strukturalis harga bahan makanan akan terus naik sehingga proses saling dorong mendorong antara upah dan harga tersebut selalu mendapat “umpan” baru dan tidak akan berhenti.

 

 

 

 

 

Pembahasan Masalah

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dimana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat atau turunnya daya jual mata uang suatu Negara. Tingkat inflasi di Indonesia selalu mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Parah tidaknya inflasi sebenarnya bersifat relatif, karena ukuran berat atau ringan itu bergantung pada kekuatan masyarakat atau negara yang mengalami inflasi.

Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti untuk perekonomian yang lebih baik. Namun apabila inflasi dalam masa parah, yaitu pada saat inflasi tidak terkendali, keadaan perekonomian menjadi kacau karena harga meningkat dengan cepat, hal itu menyebabkan keadaan masyarakat semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Pada tabel terlampir pada tahun 2005 merupakan inflasi tertinggi dibandingkan tahun-tahun selanjutnya yaitu sebesar 17,11 persen. Hal ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan semua kelompok barang dan jasa, seperti : kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan.

Memasuki tahun 2006 tingkat inflasi mengalami penurunan yang sangat signifikan. Inflasi pada tahun tersebut menurun hingga 10,51 persen. Hal ini cukup memuaskan walaupun tingkat inflasi masih terbilang tinggi yaitu 6,60 persen. Kondisi inflasi tersebut bertahan hingga memasuki tahun 2007, namun di akhir tahun 2007 mengalami penurunan walau hanya sebesar 0.01 persen.

Sejalan dengan terpeliharanya kestabilan nilai tukar rupiah, laju inflasi selama tahun 2009 secara berangsur-angsur terus menurun dari tahun sebelumnya. Laju inflasi tahunan yang pada akhir tahun 2008 mencapai sekitar 11,06 persen, menurun menjadi 2,78 persen pada akhir tahun 2009.

Menurunnya laju inflasi sepanjang tahun 2009, sangat dipengaruhi oleh rendahnya laju inflasi pada bahan makanan dan komponen barang-barang yang harganya ditetapkan pemerintah.

Namun, pada tahun 2010, laju inflasi cenderung meningkat sebesar 6,96 persen sejalan dengan perkembangan perekonomian dunia yang mendorong kenaikan harga-harga barang dan jasa di Indonesia.  Selain itu, perubahan iklim juga telah berdampak pada menurunnya produksi barang dan jasa.

Oleh karena itu, pemerintah harus terus melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan inflasi dengan melakukan operasi pasar, menjaga kecukupan pasokan dan ketersediaan barang, mengamankan stok di daerah, menjaga kelancaran distribusi barang, mengembangkan sistem logistik nasional, dan mengintensifkan penyuluhan pertanian agar petani lebih siap dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

 

Kesimpulan

Inflasi di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Inflasi yang ringan akan memberi pengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik, sedangkan jika inflasi itu besar akan berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Bahkan jika inflasi tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah dapat membuat perekonomian negara Indonesia menjadi semakin terpuruk.

 

Saran

Peran pemerintah dalam mengatasi laju inflasi sangat penting. Oleh karena itu, agar laju inflasi mencapai tingkat yang paling rendah pemerintah seharusnya terus melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan inflasi dengan melakukan operasi pasar, menjaga kecukupan pasokan dan ketersediaan barang, mengamankan stok di daerah, menjaga kelancaran distribusi barang, dan mengembangkan sistem logistik nasional.

 


Lampiran

LAPORAN INFLASI

Periode 2005-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s